Puisi Nasionalisme

Puisi Nasionalisme
Puisi Nasionalisme

Puisi Nasionalisme – Nasionalisme merupakan suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara, dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yamg mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama. Baik dalam mewujudkan kepentingan Nasional, dan rasa ingin mempertahankan Negaranya baik dari internal maupun eksternal. Ikatan Nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat, saat pola pikir mereka mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari sana.

Saat itulah naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan Negerinya, sebagai tempat hidup dan menggantungkan diri di sana. Nasionalisme tidak terlalu terlihat jika keadaan aman dan tidak ada serangan. Tetapi saat ada pergerakan musuh yang ingin menguasai Negaranya, saat itulah semua bahu membahu mempertahankan tanah tumbah darah mereka. Dan semangat Nasionalisme terlihat, bahkan berkobar membara demi membela Negara.

Baca Juga : Puisi Ombak

Banyak yang berpikiran jika Nasionalisme adalah dengan memakai produk dalam Negeri, menggunakan bahasa Indonesia dan tidak menggunakan bahasa Asing. Serta enggan memakai kemajuan teknologi. Padahal, Nasionalisme tidak seperti itu, kita tetap bisa bebas memakai produk luar Negeri jika memang mampu membelinya. Mempelajari bahasa Asing demi masa depan kita. Dan menggunakan kemajuan teknologi untuk mengetahui perkembangan dunia. Agar kita bisa melihat, dan membangun bangsa Indonesia menuju Negara yang lebih baik lagi. Semangat Nasionalisme bisa ditunjukan dengan mengharumkan nama baik Negara kita, menjaga kerukunan beragama, dan menjaga kebudayaan daerah.

Menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 45. Tidak melakukan diakriminasi pada golongan minoritas, apapun alasannya. Marilah bersama menjaga keutuhan NKRI, Kebhinekaan Tunggal Ika. Agar kita bisa dengan bangga, menunjukan pada dunia bahwa kita Negara yang berkedaulatan tinggi. Menjunjung keberagaman bahasa dan budaya. Selalu menjaga kebersamaan. Saling menghormati segala keyakinan dan perbedaan yang ada. Sehingga terbentuk pribadi Indonesia yang kuat. Nah berikut ini Puisi Nasionalisme yang bisa kalian simak :

Puisi Nainalisme Karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat

Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Puisi Nasionalisme Karya Taufiq Ismail

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan
Indonesia
padaku

Puisi Nasionalisme – Ratapan Sang Garuda

kau terlahir dari sebuah pemikiran
prinsip yang menjadikan kau sebuah lambang
bersumber dari ideologi kerakyatan
bernafaskan bhinneka tunggal ika

di tubuh mu terdapat sebuah simbolik
terdiri dari banyaknya harapan
tersusupi sebuah mimpi
menjadikan mu gagah dan tak terjabar

pandanganmu tajam
tubuh tegap dan tegar
menggambarkan rakyat negerimu
dan kuatnya alam ini menopangnya

namun kini telah lebur
garuda kini seolah berubah
dari sebuah ideologi menjadi tak berarti
rakyatnya melupakan apa itu perjuangan

negeri ini kembali di guyur neolib
berjuta kapitalis asing melakukan pelecehan
dari apa yang kita pegang saat ini
prinsip kita disingkirkan oleh kapitalis hitam

negeri ini telah kehabisan kata
sehingga menolak pun hanya sandiwara
idealisme dalam ideologi tergadaikan
berharap emas sebagai imbalanya

garuda memandang dari sudut tajam
meringis karena hilangnya jati diri negeri
rakyat menjadi barang komoditi
dapat di jual dan di beli

ratapan garuda tak berhenti
namun pemimpin hatinya di kebiri
rasanya mati akibat kolusi
sekarung padi hanya berubah menjadi sebatang roti

negeri ini akan terombang ambing
harus ada garuda-garuda yang mau berjuang
rakyat yang menjunjung ideologi
dan pemerintahan yang berprinsip

tak akan mati akan idealisme
tak akan lapar karena ideologi
demi sebuah harapan negeri
jangan biarkan garuda meratapinya

negeri harus segera berubah
rakyatnya harus di sadari
jangan biarkan borjuis berkuasa
atau kiamat akan menjadi sebuah fakta

negeri ini terdiri dari ideologi
dibangun dari banyaknya mimpi
dimana berdiri sang garuda
dan negeri ini bukan negeri borjuis

lenyaplah neolib
hapuskan kapitalisme
segera nasionalisasi
jangan biarkan alam ini di miliki asing

buruh jangan militansi buta
menyatulah semua elemen
jangan biarkan ibu pertiwi kembali di gagahi
sudah saatnya negeri ini berdikari

Puisi Nasionalisme Guru

Guru !
Pejuang tanpa tanda jasa begitulah orang memanggilmu
Meneteskan embun ilmu kepada aku, sang anak didikmu
Dengan rajin bahkan dalam kedadaan malas aku terima ajarmu
Namun semua adalah jasa-jasamu akupun tahu tentang ini itu.

Guru !
Dulu, kata demi kata kau ajarkan
Aku yang terbata-bata membaca
Kau ajarkan tanpa lelah dan rasa bosan
Demi aku sang anak yang sering melawan

Dulu, ini huruf apa , itu huruf apa
Aku tak tahu dan selalu bertanya pada sosokmu
Dengan sabar kau tunjukkan huruf demi huruf padaku
Dengan sabar dan tanpa bosan menghabisi waktu

Guru !
Sekarang…
Ribuan kata bisa kuucapkan
Jutaan kata lancar aku tuliskan
Karena kau wahai sang pahlawan
Pahlawan dalam pendidikan

Sungguh,
Dosa apa yang aku terima
Dosa apa yang pantas aku sandang
Jika aku tak mampu berucap terima kasih guru
Lewat mulut ini yang dulu terbata-bata membaca dengan kaku

Sungguh,
Dosa apa yang aku panggul
Dosa apa yang pantas aku sandang
Jika aku tak mampu tulis ribuan bait terima kasih guru
Lewat mata ini yang buta huruf demi huruf tak tahu.

Guru !
Terima kasihku
Aku sampaikan dalam bait puisiku
Aku tuliskan dalam kalimat-kalimatku
Maaf, jika aku dulu hanya jadi bebanmu
Namun kau adalah pahawanku
Pahlawanku dalam menggapai cita-citaku
Terima kasih ibu guru

Jasamu akan kukenang hingga akhir waktu

Merdeka

Merdeka!
Teriakku lantang dalam dada
Kepal tekad tinju busuk nafsu jiwa

Tapi tidak merdeka
Jika hanya kata dan janji manis dalam doa
Tunjukkan munafikku karena tak ada usaha

Merdeka adalah sifat
Membebani diri untuk mereka
Hidup dan mati sama tinggalkan cinta

Bapak Untuk Kami

Kami butuh bapak, bukan sekedar pemimpin
Menyempatkan merawat kami ketika sakit
Mengantarkan kami untuk diperiksa
Menunggui sampai kami sembuh

Kami butuh bapak, bukan sekedar penguasa
Memberi kami makan saat kelaparan
Membagikan bebungkus harapan
Menggapai mimpi masa depan

Kami butuh bapak, bukan sekedar bapak
Menuntum kami untuk senantiasa belajar
Menyelesaikan masalah dengan benar
Dan mengeluh adalah kebodohan

Kami butuh bapak, bukan sekedar suami
Biasa mengiba di pangkuan ibu pertiwi
Mengingkari kibaran janji
Pulang tanpa harga diri

kami butuh bapak, laki-laki yang pemberani
Membebankan diri untuk kemajuan negeri
Menjaga martabat keluarga bangsa
Memakmurkan tanah surga kita

Kartini

Kartini tak perlu berdan ekstrem
Perut slim berbusana legging
pamer paha juga dada

Kartini seorang wanita
Melahirkan
Membesarkan
Membenarkan

Membimbing
Mengerti hidup dengan cinta
Menjaga seutuhnya
Sesuai kodratnya
seperti bumi yang tak berhenti menumbuhkan padi

Itulah yang bisa kami sampaikan terkait dengan puisi nasionalisme, semoga dengan ini kita lebih semangat lagi dan berjiwa nasional, jika ada yang ingin disampaikan silahkan tuliskan pada kolom komentar dibawah ini ya.