Puisi Rumahku

Puisi RumahkuPuisi Rumahku – Rumahku, adalah tempat tinggalku. Di mana aku dilahirkan, dibesarkan dan mengejar cita dan impian. Rumahku tempat tinggal yang terdiri dari kedua orangtuaku, aku dan saudara-saudariku. Rumahku, bisa megah dan juga sederhana. Tergantung sebatas mana usahaku dalam mencari rezeki yang diberikan Tuhan untukku. Rumahku, bisa juga merupakan kata ganti untuk sebutan tanah air atau Negaraku.

Karena di tanah air inilah aku dilahirkan, dibesarkan dan menjalankan semua aktivitas, serta jika boleh meninggalpun di tanah air. Namun, rumahku bisa juga menjadi kata kiasan atau pengganti untuk seseorang yang sangat kita cintai. Di bawah ini adalah salah satu contoh puisi tentang rumahku namun memiliki kata kiasan untuk seseorang yang kita cintai :

Kau Adalah Rumahku

Kau adalah rumahku
Tempat aku berpulang melepas jenuhku
Ke manapun, melangkahkan kakiku
Kau tetap menjadi tempat singgahku

Kau adalah rumahku
Tempat di mana aku berkeluh kesah
Berbagi canda dan tawa
Menyampaikan segala rasa yang ada di jiwa

Kau adalah rumahku
Kau tak pernah mengeluh kepergianku
Kau selalu menerima dan menunggu
Kau tak pernah menghakimi
Dan kau selalu ada di sini

Kau adalah rumahku
Tempat untuk berpulang dan menetapku
Tempat aku menghabiskan hari tuaku
Tempat di mana aku akan menghembuskan napas terakhirku
Terdiam, membeku terbujur kaku

Kau adalah rumahku
Kau mencintaiku apa adanya
Dan aku mencintaimu apa adanya

Kau adalah rumahku
Tempat aku mencurahkan kasih sayang
Tempat aku belajar menerima kekurangan
Tempat aku belajar mengenal rasa cintaku

Kau adalah rumahku
Yang selalu aku cintai
Yang selalu aku puja
Dan aku kasihi

Puisi Lingkungan Rumahku

Rumahku istanaku….
Tempat aku dilahirkan
Tempat aku dibesarkan
Tempat aku dibimbing kesekolah

Oleh ayah dan ibu
Rumahku surgaku….
Tempat aku berlindung
Dari badai dan topan
Tempat aku berteduh

Dari panas dan hujan
Yang kadang datang menyapa
Rumahku yang sederhana
Tidak megah
Dan tidak mewah
Itulah rumahku

Mentari masih tetap bersinar
Senandungkan lagu indah untukku
Kubuka jendela kamar dan melihat hijaunya pekarangan
di halaman belakangku

Tapi itu sepuluh tahun yang lalu
Tak kudengar lagi, kicauan burung gereja di pohon jambu
Hanya suara gergaji mesin yang riuh menggema di telingaku
Langit yang dulu biru dan awan putih yang menyelimuti
Kini hanya asap hitam yang menutupi langit

Got-got di depan rumahku, kini menjadi lebih bau
Lebih bau dari pada bau septiteng
Oh…pohon jerukku..
Tak bisa kupetik seperti sebesar dulu

Kini pekaranganku tinggal raga
Tak ada lagi jiwa yang bisa kusapa
Andai waktu itu, bisa kupertahankan kebunku
Mungkin masih bisa kunikmati semuanya.

Dari kerikil dan bebatuan
Dari kayu dan peralatan
Terangkai bentuk kokoh berdiri

Menghalau panas,dan terik sang surya
Meredam dingin, angin membeku

Menjadi tempat cinta terjalin
Menjadi tempat cita ter-ikrar
Menjadi saksi sebuah perdebatan
Menjadi saksi sebuah perdamaian

Disini, aku ada,….tinggaL
Disini aku berdiri, tegar

Menyelimuti jiwa, menerangi gelap
Membalut luka dan menyembuhkan duka

Disini,aku tertawa..riang
Dan menangis, haru

Juga jerit sikecil merdu, memecah hening siang
Dan memecah sunyi malam

Disini aku berpijak tumpu, dan berbaring lemas
Dari yang serba menjadi serbi
Dari yang titik menjadi hampar
Begitu damai, engkau rupawan
Melindungi dan memeluki, aku erat.

Dari awal terbit, sampai akhir tenggelam
Sabar menunggu dan menanti pasti…
Tiada lelah dan tak pernah dahaga
Atau bahkan marah apalagi murka
Setia dalam bentuk,pasti dalam guna
Itulah engkau, rumahku tercinta.

Puisi Rumahku Surgaku

Disanalah aku berlindung
Disanalah tempat tinggalku
Dan disanalah tempat berkumpul keluargaku

Rumahku surgaku…
Tempatku berteduh saat hujan
Tempatku berlindung saat panas
Dimana aku tidur dengan nyenyak

Rumahku surgaku…
Rumahku tempat aku dibesarkan
Rumahku tempat aku diberi kasih sayang oleh orangtuaku

Rumahku surgaku…
Kau sangat berguna bagiku.

Puisi Rumahku Tercinta

Kemanapun kaki ini melangkah
Pada akhirnya hanya gubuk tua tempat ku pulang
Menetap di sana dan bahgia bersama cinta yang kupunya
Hanya rumahku tempat kembaliku.

Di gubuk itu aku mengukir kenangan
Bersama kasih dan cinta yang tuhan anugerahkan
Aku bahagia aku tersenyum
Aku sedih aku menangis.

Hanya rumah itu tempatku
Aku bisa menangis tanpa pura pura kuat
Aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya
Di sana ku temukan orang yang benar benar mencintaiku.

Meski sederhana
Aku sangat senang karena hatiku bahagia berada di sana
Meski bukan istana yang menjulang tinggi
Namun aku tenang dan cinta akan rumahku.

Puisi Chairil Anwar Rumahku

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senja kala
Di pagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

Puisi Oh Rumah Ku

Oh rumahku
Di sana aku pertama membuka mata memandang dunia
Lahir dan melihat dunia yang penuh ini.

Oh rumahku
Di sana aku pertama berjalan
Menapak bumi tempat jasad berkalang.

Oh rumahku
Di sana aku pertama mendengar
Sapaan dan godaan keluargaku.
Oh rumahku
Di sana aku pertama menangis
Berteriak dengan air mata yang bak sungai.

Oh rumahku
Di sana aku pertama merasa cinta
Cinta orang tuaku begitu besar.

Oh rumahku
Di sana aku pertama merasa rindu
Merindukan seseorang.

Oh rumahku
Tempatku melakukan banyak hal
Aku sangat bahagia di sana.

Puisi Rumahku yang Majemuk

Pernah nampang di botol air mineral
Kau tak pernah sombong, meski mampu
Rumahku kemajemukan
bakir nan mampat
tak pernah fakir budaya dan adat
meski kini semakin sepi peminat

seperti tukang kacang rebus keliling yang luruh pembelinya
sebab diganti oleh ayam kriuk yang nebeng di mal-mal megah
tika Mahatuan merajah Bumi begitu eloknya
kemudian dari permenungan para tetua, lahirlah Garuda
bukan hanya sekadar burung legenda, namun sila yang lima

rumahku kemajemukan
ragam suku dan ras sudah tak elak
Garuda bisa saja murka dan mengepaskan sayapnya
merasai bangsa hampir mlarat toleransi
di tengah maraknya angka 212, 112, 212, 313, dan seterusnya

Puisi ini ku bikin terburu-buru
sama terburunya saat keragaman satwa mulai punah,
tari tradisional tersaingi oleh disko dan Korea Pop
Ajrih, meski rumahku, Indonesia,
akan selalu menjadi rumah kemajemukan.

Puisi Rumahku Istanaku

Cahaya mentari datang membuka mata
Memaksa retina menatap dunia pagi
Sungguh sangat nyenyak tidurku semalam
Hanya di sini ku bisa begini.

Di rumahku ini
Aku bisa tenang dan damai
Aku bisa menjadi diriku seutuhnya
Aku senang di sini di rumahku.

Di sana aku menemukan beribu kebahagiaan
Kehangatan yang membalutku
Aku senang aku bahagia
Karna ada ibu dan bapakku.

Tuhan panjangkanlah umur mereka
Agar kebahagiaan ini tidak pernah menjadi cerita
Seperti awan yang hilang menjadi hujan
Hilang tiada tanpa sisa berbekas.

Namun rumah juga bisa diibaratkan untuk hati, karena hati adalah cerminan hidup kita. Tempat di mana dosa dan pahala berada. Tempat kita menentukan baik dan benar jalan yang di pilih. Itulah kumpulan puisi rumahku yang bisa kalian baca, semoga bermanfaat.

Tags: